Beranda Berita

Creative Arts School And University Roadshow 2017

British Council bekerja sama dengan Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta (FFTV-IKJ) menyelenggarakan kegiatan bertajuk “Study UK: Creative Arts School And University Roadshow 2017” yang dilaksanakan pada tanggal 19 Oktober 2107 bertempat di kampus FFTV-IKJ, Jl. Cikini Raya 73 Menteng, Jakarta Pusat. Kegiatan ini merupakan kegiatan roadshow yang diikuti oleh 6 perguruan tinggi di Inggris, yaitu De Montfort University, University of Kent, University of Gloucestershire, University of London, Liverpool John Moores University dan University of Southampton. Tujuan dari kegiatan ini adalah memperkenalkan jurusan dan sistem pendidikan yang mereka laksanakan saat ini di Inggris dengan harapan ada mahasiswa lulusan dari FFTV IKJ yang melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya di perguruan tinggi mereka.


Rombongan dipimpin oleh Ibu Meinanda Chudahman, Senior Programme Manager British Council dan didampingi oleh Ibu Audrie Adriana Sanova, Programme Manager British Council. Setibanya di FFTV, mereka diterima oleh Wakil Dekan Bidang Kerjasama FFTV, Bapak H. German G. Mintapradja, M.Sn., Wakil Dekan Bidang Kerjasama FFTV, Ibu Suryana Paramita, M.Sn., Kepala UPT Bidang Kerjasama FFTV, Bapak Naswan Iskandar, M.Sn. dan staf.


Dalam kegiatan tersebut, masing-masing universitas membuka booth yang bertempat di halte FFTV-IKJ dan memberikan informasi terkait proses perkuliahan dan biaya kuliah di masing-masing universitas. Di tempat terpisah, yakni di Studio Tom dan Studio 724, masing-masing perwakilan memberikan workshop selama hampir satu jam kepada para mahasiswa dengan 4 topik yang disampaikan, yaitu “Co-creative Network” yang disampaikan oleh Rachel Granger dari De Monfort University, “London In Film” disampaikan oleh Maurizio Cinquegrani dari University of Kent, “The Familial-Story, Family, and the Outsider in Film, TV and Animation” disampaikan oleh Fional Curran dari University of Gloucestershire dan terakhir adalah “Clever Graphics” yang disampaikan oleh Tim Metcalf dari University of Southampton.

Kunjungan Mahasiswa Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar

Fakultas Ilmu Komunikasi, Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar melakukan kunjungan persahabtan ke Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta pada hari Rabu, tanggal 11 Oktober 2017 dan diterima oleh Kaprodi S.1 Bapak Danu Murti, M.Sn., Kaprodi  D-III, Bapak hanief Jerry, M.Sn., Kasubbag. Akademik Bapak Sunarno, SE., M.Sn., Kaur. Humas, Tony M. Riswan, dan 2 orang dosen, yaitu Bapak Supriyanta, S.Sn. dan Bapak Ivan Putra, S.Sn. Rombaongan diterima di ruang di ruang Syuman Gedung Art Cinema FFTV. Ketua rombongan, Ibu  I Gusti Ayu Ratna Pramesti Dasih, S.Sos., M.Si. datang bersama 25 orang mahasiswa dan 3 orang dosen pendamping.

Tujuan kunjungan ke FFTV-IKJ adalah untuk mempererat hubungan lembaga yang selama ini sudah terjalin baik dan mempererat hubungan mahasiswa serta sharing pengetahuan yang lebih luas kepada para mahasiswa IHDN melalui diskusi dan nonton film, bareng praktisi dan dosen-dosen FFTV.

Program sebelumnya yang telah berjalan adalah kerjasama penyelenggaraan Workshop Produksi Film untuk dosen dan mahasiswa IHDN, kedepannya direncanakan akan diselenggarakan kegiatan serupa dengan rentang waktu yang lebih panjang yang akan diikuti oleh para pengajar di IHDN.

Para peserta kunjungan mendapatkan informasi lengkap dari para Kaprodi FFTV dan Kasubbag. Akademik tentang proses perkuliahan di FFTV, mekanisme pembimbingan pembuatan karya akhir maupun praktika terpadu. Dalam pembuatan tugas akhir, mahasiswa dituntut untuk membuat karya film dengan mengangkat tema tentang kearifan budaya local masing-masing daerah di Indonesia. Misalnya mahasiwa yang berasal dari Sumatera Barat, membuat film dengan tema kebudayaan Minang, mahasiswa dari Sumatra Utara membuat karya dengan kultur Batak, begitu pula mahasiwa dari daerah lainnya membuat film dengan tema kedaerahan masing-masing.

Acara selanjutnya adalah nonton film bareng dan diakhiri dengan kegiatan diskusi tentang proses pembuatan film mulai dari pasca produksi, produksi sampai pos produksi.

Launching Festival Sinema Australia Indonesia 2018 dan Masterclass

Kedutaan Besar Australia di Jakarta bekerjasama dengan Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta (FFTV-IKJ) menyelenggarakan peluncuran “Festival Sinema Australia Indonesia” (FSAI) 2018, yaitu sebuah festival yang membuka kesempatan bagi para pembuat film Indonesia dan Australia untuk berpartisipasi dalam kompetisi film pendek. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada hari kamis, tanggal 5 Oktober 2017 mulai pukul 13.00 s.d. selesai, bertempat di Studio Tom FFTV-IKJ

Hadir dalam kegiatan tersebut dan sekaligus meresmikan. dimulainya kompetisi film pendek oleh Duta Besar Australia untuk Indonesia Paul Grigson, Rektor Institut Kesenian Jakarta, Dr. Seno Gumira Ajidarma, Wakil Rektor Bidang Kerjasama IKJ, Suzen HR. Tobing, S.Sn., M.Hum., Wakil Dekan Bidang Kerjasama Fakultas Film dan Televisi IKJ, Suryana paramita, M.Sn. serta para tamu undangan dari berbagai Perguruan Tinggi, siswa SMA/SMK se Jabodetabek dan masyarakat umum.

Sineas muda Indonesia berkesempatan untuk memenangkan perjalanan ke  Australia dalam Kompetisi Film Pendek Festival Sinema Australia Indonesia 2018, “Ini adalah kesempatan luar biasa bagi para sineas Indonesia untuk unjuk kreativitas,” kata Duta Besar Grigson.

Setelas sesi peresmian oleh Duta Besar Australia untuk Indonesia dan Rektor Institut Kesenian Jakarta selesai, acara dilanjutkan dengan sesi masterclass dengan materi "Sejarah Film Indie Indonesia" yang diampu oleh pembicara sekaligus juri film pendek FSAI 2018, yaitu Arturo Guna Priatna yang juga merupakan Ketua Senat Akademik Fakultas Film & Televisi IKJ. Dalam kesempatan ini, Konselor Kedutaan Besar Australia, Allison Purnell turut hadir untuk memberikan sosialisasi tentang regulasi festival kepada para peserta.

Diharapkan dengan adanya jalinan kerjasama antara Kedutaan Besar Australia untuk Indonesia dengan Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta, semangat sineas film pendek tumbuh semakin kuat dan tercipta komunikasi antar dua negara yang menguatkan visi dan misi kebudayaan melalui bidang perfilman.

FGD Nakah Akademik Pendidikan Tinggi Film di Indonesia

Perkumpulan Program Studi Film dan Televisi Indonesia (PROSFISI) bekerjasama dengan Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta (FFTV_IKJ) menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) “Naskah Akademik Pendidikan Tinggi Film di Indonesia” pada tanggal 11 dan 12 Oktober 2017 bertempat di Hotel Gren Alia Cikini, Jakarta Pusat.

Kegiatan ini merupakan tahapan akhir dari rangkaian kegiatan penyusunan Naskah Akademik Pendidikan Tinggi Film di Indonesia yang diikuti oleh 12 (dua belas) perguruan tinggi anggota PROSFISI yang memiliki Program Studi Film dan Televisi (dan sejenis) yaitu; Institut Kesenian Jakarta (IKJ), Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang, Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung, Universitas Multimedia Nusantara (UMN), Universitas Padjajaran Bandung, Universitas Jember, Universitas 45 Surabaya, Universitas Potensi Utama Medan, dan Polimedia Jakarta.

PROSFISI memandang Pendidikan Tinggi Perfilman di Indonesia masih mengalami ketertinggalan dalam hal keragaman bidang Ilmu Film, serta ketertinggalan dalam isi kurikulum yang diajarkan pada pendidikan film di berbagai Perguruan Tinggi. Untuk mengejar ketertinggalan tersebut, maka beberapa cara dapat ditempuh, seperti merubah paradigma tentang Program Studi Film yang banyak berkutat dengan proses penciptaan dan teknis, sebaiknya tidak melulu hanya dilihat dalam kaca mata keterampilan atau vokasi semata, melainkan juga membuka kemungkinan lain terkait dengan riset dan metodologi ilmiah terhadap berbagai teori penciptaan yang umumnya dikenal di Program Studi Kajian Film.

Selain perwakilan perguruan tinggi anggota PROSFISI, FGD ini juga dihadiri organisasi dan institusi pelaku industri dan televisi, serta institusi pemangku kebijakan di bidang film dan televisi seperti Badan Perfilman Indonesia (BPI), Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi yang dihadiri oleh Prof. dr. Ali Ghufron Mukti, M.Sc., Ph.D., Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek Direktorat Pendidikan Tinggi, dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia yang diwakili oleh Bapak Dr. Maman wijaya, M.Pd.

FGD Naskah Akademik Pendidikan Tinggi Film di Indonesia ini merupakan upaya untuk meyakinkan tim perumus FGD yang dibentuk PROSFISI sebelum produk Naskah Akademik Pendidikan Tinggi Film di Indonesia disampaikan kepada pemangku kebijakan pendidikan tinggi di Indonesia, para pemangku kebijakan perfilman, dan stakeholder perfilman di Indonesia.

Naskah Akademik ini menjelaskan tentang dasar perlunya pengembangan keragaman pendidikan film di tingkat pendidikan tinggi dan sebagai acuan dalam penyusunan peraturan perundang-undangan yang menjadi yuridis bagi penyelenggaraan berbagai program studi baru dan pembukaan jurusan film sebagai disiplin ilmu yang mandiri. 

SEMINAR PERPUSTAKAAN

Dalam rangka Dies Natalies yang ke-53, Institut Seni Indonesia Surakarta menyelenggarakan Seminar Nasional “Eksistensi Perpustakaan: masa Silam, Era Kekinian & Masa Depan” yang digelar di ruang seminar ISI Surakarta pada tanggal 27 September 2017. Tampil sebagai pembicara Safirotu Khoir, Ph.D., staf pengajar Manajemen Informasi dan Perpustakaan UGM serta Chandra Pratama Setiawan, S.IIP, M.Sc., Pustakawan Universitas Kristen Petra Surabaya.

Perwakilan Perpustakaan Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta (FFTV-IKJ) turut menghadiri kegiatan seminar tersebut yang diwakili oleh Bapak Arda Muhlisiun, M.Sn., Wakil Dekan Bidang Akademik, Saudari Julita Pratiwi, S.Sn., Kepala Perpustakaan FFTV dan saudara Jerry Yandrian, Staf perpustakaan FFTV.

Dalam seminar tersebut, dijelaskan bagaimana cara membangun eksistensi sebuah perpustakaan dari masa ke masa. Adanya pendekatan yang beragam bila berbicara perpustakaan dari masa lalu, masa sekarang dan masa mendatang, diantaranya collective centric, customer centric, experienced centric. Bila berbicara era sekarang, adanya upaya dari perpustakaan untuk tidak hanya terpaku sebagai tempat koleksi buku, memuaskan para pengunjung atau menawarkan pengalaman baru bagi pengunjung. Namun, perpustakaan dijadikan tempat di mana mampu menawarkan inovasi kegiatan yang beragam.

 

 

 

Sub Kategori