Beranda Tentang Kami

Tentang Kami


Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta dulu bernama Akademi Sinematografi, didirikan satu tahun setelah Akademi Seni Rupa, Akademi Seni Tari, Seni Teater yang berdiri pada tahun 1970. Semua itu bagian dari Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ) yang merupakan proyek bidang pendidikan dan pengembangan Sumber Daya Manusia dibidang Seni di Jakarta dan Indonesia secara umum, mengingat Jakarta adalah Ibukota Pemerintahan Republik Indonesia (RI) sekaligus Daerah Khusus Istimewa di Pusat pemerintahan Indonesia.

Proyek yang dibidani oleh Dewan Kesenian Jakarta tersebut, didirikan oleh Gubernur DKI Jakarta saat itu ialah Ali Sadikin. Proyek ini mulanya dikelola secara dan seperti sanggar, sebagaimana pengalaman para pendiri yang sebagian besar berlatar belakang otodidak atau pun pernah mengikuti pelatihan dibidang seni di studio-studio seni di dunia. Antara lain; Santiniketan (India), Studio-studio film di Hollywood, hingga ada juga yang mengikuti pendidikan formal dalam jangka pendek seperti di Rusia, di Perancis, di Belanda dan Jerman serta ada juga yang di Hawai serta di Amerika dan Eropa Timur.

Pendidikan seperti sanggar masih terus dirasakan setidak-tidaknya hingga tahun 1981-an, saat kemudian Pemerintah RI berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikannya mengubah Lembaga Pendidikan agar menjadi pendidikan formal berupa Institut. Seiring dengan itu, LPKJ yang kepemilikannya tetap berada dibawah DKI berubah menjadi Institut Kesenian Jakarta (IKJ).


Akademi Sinematografi awalnya digabung dengan Akademi Seni Rupa karena dianggap satu akar dalam seni visual (Visual Art), sehingga disatuatapkan menjadi sebuah Fakultas Seni Rupa dan Disain. Akademi menjadi Jurusan dan Jurusan Film menjadi bagian dari Fakultas Seni Rupa.

Akademi Seni Tari, Seni Teater dan Seni Musik digabung dalam satu Fakultas, karena dianggap dalam rumpun seni pertunjukan, dan dimasukkan dalam Fakultas Seni Pertunjukan.

Seiring dengan kebutuhan dan perkembangan zaman, Fakultas Seni Rupa dan Disain pun berkembang. Jurusan Film yang semula satu atap dengan Fakultas Seni Rupa dan Disain berpisah, kemudian menjelma menjadi Fakultas Film dan Televisi (FFTV). FFTV pun kemudian berkembang, membuka Jurusan Fotografi dan terakhir membuka Jurusan Kajian Media yang dulu pernah bernama Jurusan Filmologi.

Pada awal tahun 1990-an FFTV-IKJ masuk menjadi anggota Cilect (asosiasi sekolah film dan televisi Internasional). FFTV–IKJ yang dipimpin oleh Soetomo Gandasubrata saat itu sudah menjadi anggota penuh, bahkan pada saat itu Slamet Rahardjo dipilih sebagai Ketua Perwakilan Cilect di Asia Pasific. Kini setelah konferensi Cilect 2008 di Beijing –FFTV-IKJ hadir diwakili oleh Kusen Dony Hermansyah (Wadek III) dan Tanete A. Pong Masak (Staf Bidang IV FFTV-IKJ)– berhasil memposisikan FFTV-IKJ kembali sebagai anggota tetap Cilect. Dengan demikian FFTV-IKJ kembali sebagai satu-satunya perwakilan Cilect di Indonesia.

Harapannya, FFTV tentu akan semakin banyak bergaul dan semakin mudah untuk mendapatkan dan menyetarakan kurikulum yang diberlakukan setara dengan kurikulum pendidikan film internasional. Artinya, apa yang diberikan dalam pendidikan di FFTV-IKJ diakui sama kualitasnya dengan apa yang diberikan oleh sekolah film di Beijing, di London, di Australia atau pun di negara-negara yang sekolah filmnya menjadi anggota Cilect (lihat www.cilect.org).

Seperti halnya di dunia animasi, FFTV malah sejak April 2006 melalui Gotot Prakosa –yang dipilih sebagai President ASIFA Indonesia Chapter– telah diakui menjadi anggota board yang ikut memikirkan perkembangan dunia animasi dunia (lihat: www.asifa.net).

Untuk keanggotaan dan sosialisasi di bidang-bidang lain sedang dipersiapkan lebih lanjut, sekiranya dapat sesegera mungkin menjadi anggota atau pun terlibat dalam pergaulan yang dipayungi oleh asosiasi di berbagai bidang profesi di dunia Internasional. Agar pada gilirannya nanti dapat mempercepat mendapatkan berbagai info untuk perkembangan pendidikan di FFTV-IKJ masa kini dan masa depan.

Melalui Cilect memang akan dimanfaatkan untuk pengembangan secara Internasional dan keluar secara nyata untuk mempersiapkan diri dalam perkembangan secara global. Namun usaha ke arah itu juga dirintis dengan berbagai kerjasama internasional yang kini semakin nyata menjadi program bersama di Institut secara keseluruhan. Internasional school memang harus dikembangkan secara nyata, namun tetap bertolak dari konten atau kualitas kelokalan yang menjadi ciri IKJ.

Seperti diungkapkan di depan, IKJ itu semestinya tidak hanya berorientasi secara khusus kelokalan. Umpamanya hanya menggali budaya Betawi saja, karena lokasi IKJ berada di Jakarta (Betawi), tetapi harus lebih dari itu, IKJ harusnya mencakup ke-Indonesiaan.

IKJ secara idiil menjadi payung besar, yang memayungi tingkat pendidikan secara nasional dan dapat mengakses tempat-tempat yang luas. Kampus IKJ bukan hanya di TIM saja tetapi di seluruh wilayah Indonesia. Demikian juga tempat workshop dan menggali konten budaya adalah ke-Indonesiaan yang secara riil. Mahasiswa IKJ setidak-tidaknya dapat belajar berbagai materi kebudayaan di seluruh pelosok Indonesia. Dengan demikian karya-karya mahasiswa IKJ akan lebih membumi dan meng-Indonesia secara konkrit dan dapat semakin cepat menemukan ciri dan nilai kebudayaan Indonesia dalam film atau dunia televisi Indonesia.

Sebagaimana visinya IKJ menciptakan masyarakat yang inovatif, ekperimental namun juga menciptakan hal-hal yang berguna bagi perkembangan dunia film serta televisi di Indonesia secara umum dan Jakarta secara shusus.

Website ini di dalamnya memberi keterangan tentang kelembagaan dan semakin ke dalam tentang person-person yang mendirikan, pengajar, alumni yang menonjol serta kemahasiswaan yang kini semakin menciptakan jati diri setelah nanti diberi berbagai fasilitas dan kebebasan mencipta secara luas dan tidak sekedar di sekitar kampus IKJ, tetapi diperbolehkan mencipta jauh dari lokasi pendidikan IKJ.

Harapannya Website ini akan menjadi informasi awal terhadap isi FFTV-IKJ, dan harapan ke depan atau pun informasi berguna bagi masyarakat yang ingin bekerjasama, belajar di FFTV, atau hanya untuk studi perbandingan tentang pendidikan film, televisi, fotografi serta kajian media di Indonesia atau pun di luar negeri, mengingat kini semakin mudah mendapatkan info melalui dunia maya.